(Last Updated On: April 5, 2019)

TV. Ya, TV alias televisi. Siapa sih yang nggak tahu benda satu ini? Benda yang kita gunakan untuk mencari informasi atau untuk menghibur kita di kala kita sedang gabut. Namun, apakah kalian tahu kalau ternyata TV lokal di Indonesia sendiri sudah ada sejak lama sekali. Saya ingat cerita kakek dan orang tua say. Pada waktu itu untuk menonton TV saja mereka harus menumpang di rumah tetangga. Memang pada masanya TV merupakan barang yang cukup mewah dan tidak semua orang mampu untuk membeli barang seperti itu.

Sebelum hadir di Indonesia, TV melalui banyak sekali perkembangan. Kalau menurut Wikipedia ternyata TV baru diperkenalkan di tahun 1926 di Indonesia. Namun ternyata pada tahun 1955 masyarakat Indonesia baru diberikan demonstrasi TV . Tapi apakah kalian tahu ternyata TV pertama di Indonesia bukan berasal dari negara Eropa maupun dari Amerika Serikat. TV pertama di Indonesia ternyata berasal dari Uni Soviet yang diperkenalkan pada pekan perayaan 200 tahun kota Yogyakarta.

Ternyata perkembangan stasiun TV di Indonesia cukup lama. Dari stasiun televisi Indonesia pertama sampai \sekarang ini banyak sekali perubahannya. TVRI dahulu adalah stasiun TV yang satu-satunya memiliki izin siar dan mendapatkan dukungan dari pemerintah sampai terbentuknya stasiun swasta. Namun, apakah kalian tahu kalau siaran pertama di Indonesia adalah siaran percobaan perayaan 17 Agustus pada tahun 1962? Baru di 1963 masyarakat Indonesia bisa menyasikan siaran ulang pembukaan Asian Games ke-4.

Saya sendiri sebagai seorang mahasiswa pun memiliki sebuah organisasi yang fokus kepada media seperti TV, yaitu Binus TV. Sebuah organisasi yang saya sering lihat ketika ada event yang sedang berlansung di lingkungan kampus. Setiap event pasti ada mereka yang bertugas untuk mengabadikan setiap momen dan melaporkan banyak hal yang terjadi di sana.

Acara TV yang berdampak buruk bagi anak

anak kecil sadang menonton tanpa pengawsan orang tua
anak sedang menonton

Stasiun TV lokal memang sekarang sudah banyak sekali jumlahnya dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Dulu waktu saya masih kecil saya gemar menonton TV di pagi hari untuk menonton Doraemon di RCTI. Pada waktu itu saya rela untuk bangun lebih pagi untuk menyisihkan waktu menonton acara di TV. Siangnya saya berpindah ke Indosiar untuk menonton Rurouni Kenshin atau yang biasa disebut Samurai X dan Inuyasha. Sungguh bahagia masa muda saya menonton acara TV waktu itu.

Namun, seiring berjalannya waktu saya mulai meninggalkan TV karena saya mulai merasa acara TV yang saya inginkan mulai diganti atau diberhentikan siarannya. Entah karena apa yang membuat stasiun tv tersebut untuk memberhentikan acara tersebut. Mungkin karena episodenya yang sedikit atau karena tidak memiliki ranting yang baik sehingga digantikan.

Terlebih lagi, menurut opini saya acara TV di Indonesia cenderung kurang mendidik di mata saya. Hal ini karena seperti sebuah siaran TV yang cenderung bukannya menghibur karena cerita atau narasinya, melainkan di acara tersebut banyak yang cenderung menyebarkan aib cast di sana. Memang awalnya lucu. Namun apakah dengan candaan seperti itu kita tidak melukai perasaan mereka?

Yang saya khawatirkan adalah dampak yang diberikan terhadap acara seperti ini terhadap generasi yang lebih muda. Anak kecil cenderung sering meniru apa yang dilihatnya. Tidak menutup kemungkinan kalau anak tersebut menonton siaran yang seharusnya hanya ditonton oleh orang dewasa. Di sini peran orang tua sangatlah penting agar anak tidak tumbuh menjadi toxic.

Peran orang tua terhadap tayangan di TV

keluarga muda
Menonton dengan keluarga

Mungkin ini terlalu dini untuk saya memberikan informasi seperti ini. Namun dari observasi saya anak kecil sangatlah rentan untuk mencontoh hal-hal di sekitarnya. Sebagai orang tua sangatlah penting untuk mengatur atau memonitor kebiasaan anak ketika menonton. Alangkah lebih baik jika orang tua dapat memilihkan tontonan yang lebih positif terhadap perkembangan anak.

Cara yang paling mudah adalah untuk memberikan akses acara TV untuk anak-anak. Atau berlangganan tv kabel yang memiliki channel pendidikan dan anak yang dapat memberikan dampak yang lebih positif untuk perkembangan anak. Hal itu juga bertujuan agar anak tersebut belajar dengan media yang lebih menarik.

Namun karena kemajuan zaman, orang tua saat ini cenderung memberikan akses internet kepada anaknya. Sebenarnya bukanlah hal yang buruk, namun perlu kita ketahui internet lebih luas dibandingkan dengan TV. Maka dari itu orang tua perlu untuk mencari tahu atau memonitor apa yang ditonton atau dicari oleh anak di internet.

Esensi atau sensasi?

Seperti yang kita tahu, bahwa acara TV di indonesia diproduksi oleh saluran televisi swasta. Dari semua saluran TV yang mungkin saya masih nonton adalah saluran Metro TV. Alasan saya adalah karena menurut saya. menonton tv di saluran Metro TV adalah karena saya cenderung tipikal orang yang tidak suka mencari informasi tentang politik di internet.

Banyak konten yang menarik untuk disaksikan. Namun apakah kalian pernah bertanya kepada diri kalian sendiri. Apakah tayangan TV ini memberikan informasi atau keuntungan kepada saya saat saya menonton? Saya suka berpikir hal yang sama saat saya menonton di Trans TV atau Global TV. Saya tidak bilang kalau kedua stasiun TV tersebut adalah stasiun yang bermasalah.

Mungkin kalian tahu kalau saya kurang suka dengan acara reality show seperti “uang kaget”. Alasan saya kurang suka dengan acara ini adalah karena dari tayangan ini saya melihat seseorang yang kurang mampu yang diberikan waktu untuk menghabiskan sekian juta uang untuk kehidupannya. Dari konsepnya mungkin memiliki pendekatan yang baik namun saya tidak suka cara mereka untuk meminta orang yang berjualan tersebut untuk cepat.

Saya memiliki alasan, karena teman saya adalah seorang pebisnis yang memiliki toko emas yang pernah didatangi oleh kru ini. Yang saya lihat dari story Instagram yang penah ia post  adalah mereka memaksa pegawai teman saya ini untuk menyuruh cepat-cepat.

Di sini saya berpikir, apakah sebenarnya konsep ini manusiawi untuk orang yang diberikan uang itu dan yang memiliki tok tersebut? Karena menurut saya dengan memaksakan semua itu saya rasa bukanlah hal baik untuk dipertontonkan. Kalau memang memiliki niatan yang baik kenapa tidak membuat konsep yang lebih manusiawi untuk kedua belah pihak?

Sampai kapan konten sepeti ini akan laku?

Seperti yang barusan saya katakan tentang konten TV yang saya kurang sukai terlintas di benak saya. Mau sampai kapan kita terus memproduksi atau menonton konten seperti ini? Saya rasa dengan terus berkembangnya konten digital yang dapat orang akses dengan mudah seperti Youtube menjadi ancaman TV.

Memang bukan rahasia lagi kalau media yang satu ini sedang menjadi primadona bagi masyarakat. Saya rasa kebanyakan orang lebih memilih Youtube dibandingkan dengan tv biasa karena jumlah content creator-nya yang banyak. Saya sendiri juga pengguna setia Youtube. Sejak 2010 saya jatuh cinta dengan platform ini.

Konten yang baik akan menimbulkan dampak yang positif untuk kita sebagai penonton. Yang membuat saya memilih Youtube dibandingkan dengan TV lokal di Indonesia adalah karena saya bisa menonton konten yang saya suka dibandingkan harus menonton seluruh program atau menunggu program yang saya mau tonton.

Alangkah baiknya jika stasiun TV bisa memproduksi sebuah acara yang memiliki kualitas yang baik. Saya rasa 1 episode per minggu dengan kualitas yang bisa mereka banggakan adalah saran yang bisa saya berikan. Saya rasa kalau kita menonton sebuah acara terus menerus selama seminggu konsumen akan jenuh atau alur cerita dari acara tersebut sudah terbaca. Inilah yang saya kurang suka dari acara TV lokal di indonesia.

Dampak sinetron bagi anak-anak

Seperti yang kita tahu kalau banyak sekali sinetron di TV lokal di Indonesia. Hal ini menjadi perhatian saya karena ternyata selain sinetron memberikan penggambaran yang negatif terhadap anak millennials atau anak muda secara general. Namun mereka juga memberikan dampak yang tidak baik bagi anak-anak yang menonton konten jenis ini.

Hal yang jelas tidak baik diperlihatkan di jenis konten ini adalah selain kekerasan juga adalah percintaan yang sangat berlebihan. Memang percintaan adalah hal yang individu, ada orang yang suka mengumbar dan ada yang lebih suka tidak mengumbar, yang jelas semua itu subjektif. Yang menjadi permasalahan adalah ketika mereka menggambarkan kalau anak muda di kota besar cenderung melebih-lebihkan perasaan mereka.

Apalagi ketika jika si antagonisnya adalah seorang yang berasal dari keluarga yang berada, pastinya watak dari antagonisnya adalah orang yang sombong dan sok-sokan. Inilah yang memberikan dampak yang kurang baik bagi orang-orang yang menyasikan, apalagi biasanya sinetron tersebut suka menampilkan sesuatu yang sangat tidak realistis dan cenderung melebih-lebihkan.

Apalagi jika anak kecil yang menonton mereka akan berpikiran kalau apa yang mereka tonton itu keren dan mengimplementasikan ke kehidupan mereka. Padahal itu bukanlah hal yang seharusnya mereka tiru. Kenakalan atau kesombongan bukanlah hal yang seharusnya dipertunjukan.

Tv kabel bisa menjadi salah satu alternative

TV kabel
TV kabel

Kalau kalian takut anak atau saudara kalian terperngaruh oleh tontonan seperti yang tadi saya sebutkan, alangkah baiknya kalau kalian berlangganan TV kabel. Di service ini kalian bisa berlangganan dengan banyak stasiun. Bukan hanya stasiun televisi lokal saja tetapi kalian bisa mengakses stasiun televisi dari luar negeri.

Di service ini kalian bisa mendapatkan berbagai informasi yang kalian tidak kalian dapatkan di stasiun televisi lokal. Kalian bisa menonton berita yang sedang terjadi di negara lain dan kalain juga bisa menonton acara TV yang lebih edukatif yang pastinya akan membuat anak atau saudara kalian menjadi lebih baik dibandingkan dengan kalau mereka menonton sinetron.

Acara anak-anak sangatlah penting untuk mendukung perkembangan anak. Dengan memberikan akses tersebut maka anak dapat belajar dengan media televisi tersebut. Sebut saja jika si anak menonton acara sesame street yang tentunya si anak itu dapat belajar kosa kata baru atau belajar Bahasa Inggris. Di dalam acara ini anak juga dapat belajar banyak hal selain berbahasa.

Kebiasaan harus ditanamkan sejak dini

Dulu saya seing seklai menonton TV. Mau stasiun global tv, Spacetoon atau MNC TV saya tonton dengan alasan mencari hiburan. Tetapi sering kali saya suka kebablasan menonton. Sehari yang dulu saya dibatasi untuk menoton sebanyak 2 jam saya kadang bisa menonton TV sampai 4 jam. Tentunya hal tersebut tidaklah sehat untuk mata.

Karena itu saya sekarang ini menggunakan kacamata yang disebabkan menonton TV, membaca buku, dan bermain game yang berlebihan. Tetapi sebenarnya hal tersebut bisa diantisipasi agar tidak berakibat seperti saya. Saran yang bisa saya berikan kepada kalian adalah untuk membatasi jam menonton anak. Dengan ini mereka tidak terlalu sering terkena pancaran sinar biru yang tidak sehat untuk mata.

Untuk menyiasati hal itu, kita bisa mengatur TV untuk dimatikan dalam periode tertentu. Biasanya TV zaman sekarang sudah mendukung fitur ini. Untuk sinar birunya bisa diakali dengan menguningkan layarnya sedikit. Hal ini bertujuan agar mata kita tidak terlalu sakit untuk menatap layar T dalam waktu yang lama.

Dan untuk mealtih anak agar disiplin, kalian bisa menerapkan sistem reward untuk melakukan berbagai hal. Sebagai contoh, kalian bisa memberikan reward jika si anak dapat memenuhi tugas sekolah atau membantu perkerjaan di rumah. Dengan melakukan hal ini, anak kalian merasa tertantang untuk melakukan hal tersebut dan tanpa anak itu sadari dia sudah mulai terbiasa untuk melakukannya.

Tv-tv lokal yang hanya ada di daerah tertentu

Apakah kalian pernah berpikir, untuk apa daerah tersebut memiliki stasiun TV sendiri? Saya sendiri kurang tahu mengapa setiap daerah memiliki stasiun televisi. Tetapi menutut saya mereka melakukan hal tersebut untuk memberikan informasi seputar daerah tersebut sacara langsung dan mendetail seperti Bali TV.

Lalu kalau kalian berpikir siapakah yang mengelola stasiun televisi tersebut? Yang saya ketahui, biasanya stasiun TV ini dikelola oleh pemerintah daerah. Berbeda dengan stasiun TV swasta yang dikelola oleh pengusaha atau sebuah grup besar. Yang mungkin menjadikan pembeda adalah dari iklannya.

Biasanya TV swasta memiliki banyak iklan yang membuat keuntungan terhadap TV swasta ini. Iklan juga yang membuat TV swasta untuk memproduksi acara TV yang lebih baik. Sebaliknya dengan TV daerah, yang saya pernah lihat dari stasiun TV ini adalah iklan yang sedikit yang membuat TV ini tidak terlalu ramai oleh iklan.

Bagaimana cara menikmati TV sekarang?

Banyak hal yang kalian bisa lakukan untuk menikmati TV. Salah satunya adalah kalian berlangganan TV kabel, kenapa TV kabel? Karena kalian bisa menonton banyak siaran stasiun TV nasional maupun internasional. Kalian tidak akan melewatkan banyak acara karena kalian bisa menonton apa saja.

Dengan kalian berlangganan tv kabel juga kalian juga pastinya berlangganan internet. Kenapa sih kalau berlangganan internet pasti berlangganan atau di bundle TV kabel? Ya itu biar kalian bisa menikmati 2 services secara langsung. Kalau internetnya lagi mati kalian masih bisa nonton TV channel international atua lokal seperti  Elshinta tv, TV One, Jak TV, Kompas TV, O Channel atau iNews sekalipun.

Apalagi kalau kalian mau mendapatkan experience yang lebih baik kalian bisa berlangganan dengan Groovy. Groovy memberikan layanan internet berserta layanan tv kabel yang kalian bisa gunakan untuk menonton tv. Apalagi sekarang ini sedang jamannya smart tv atau tv box yang bisa membuat experience menonton kaian menjadi lebih baik. Dengan adanya internet groovy kalian juga bermain online di game console kalian.

Tentunya dengan adanya internet dan juga tv kabel groovy kalian bisa memanffatkan kedua layanan itu secara maksimal. Sebagai contoh kalian bisa menggunakan tv kabel untuk anak menonton dan kalian bisa menonton Youtube dengan internet Groovy.

Write A Comment