(Last Updated On: May 3, 2019)

Tak dapat dimungkiri bahwa Indonesia mengalami masalah yang mendasar seiring berkembangnya teknologi digital. Kutukan sebagai negara berkembang membuat Indonesia berada di ekor. Akibatnya Indonesia hanya mampu menjadi pengikut dari tren yang diciptakan negara maju. Belum sempat kokoh menguatkan budaya literasi, budaya digital telah merasuk ke dalam bangsa. Mau tak mau kita terkena dampak negatifnya.

Dampak Negatif Budaya Digital

Dalam era yang disebut-sebut sebagai internet of things ini, kecepatan menjadi kunci utama. Bila dulu, misalnya, saat hendak mengerjakan skripsi, para mahasiswa “terpaksa” bertapa di perpustakaan, membaca sekian banyak referensi, memfotokopi, bahkan seolah menjadi kerani (juru ketik) untuk dapat menyelesaikan skripsi. Sekarang, simplifikasi terjadi. Kecepatan berperan dalam mengakses informasi. Tinggal duduk di depan layar komputer, buka beberapa protal jurnal ilmiah dari Perpustakaan Online Indonesia atau Proquest misalnya sudah bisa mendapatkan banyak hal.

Namun, kecepatan itu ternyata melahirkan dampak negatif. Bagi orang-orang yang dalam dirinya belum terbangun jiwa pembelajar sebagai bagian dari budaya literasi, internet hanya dijadikan sweet escape untuk memecahkan persoalan.

Tidak percaya? Banyak orang, terutama anak muda, yang menggunakan internet sebagai saran mengerjakan pekerjaan rumah. Baiklah, jika Google digunakan sebagai “mesin pencari”, sebagai bagian dari studi literatur, tentu itu tidak masalah. Namun, sebagian mereka dengan teguh menganggit soal-soal dan meminta jawaban secara instan di berbagai platform. Padahal level pekerjaan rumah yang diberikan toh tidak jauh-jauh dari konten yang telah dipelajari di sekolah.

Ya, jika bulan memiliki sisi gelap yang tak bisa kita lihat, kecepatan dalam mengakses informasi itu juga memiliki sisi gelap, yakni budaya instan atau keinginan serbacepat dalam menyelesaikan persoalan.

Lebih berbahaya lagi, jika dunia maya melahirkan delusi bernama hiperrealitas. Jangan sampai kita lebih merasa nyaman berinteraksi di dunia maya ketimbang di dunia nyata.

Apa Sih Peran Budaya Literasi Itu?

Kebanyakan orang mengangguk saja jika literasi dimaknai sebatas kemampuan membaca dan menulis. Padahal literasi punya makna dan peran yang jauh lebih besar dari itu semua.

Akar kata literasi itu sendiri adalah ilmu pengetahuan. Segala macam ilmu pengetahuan. Jadi, budaya literasi adalah budaya membangun ilmu pengetahuan.

Jika seperti itu, seharusnya budaya digital tak bermasalah, dong?

Ya, bilamana sikap-sikap ilmu pengetahuan itu telah terbangun pada diri manusia Indonesia. Sikap ini disebut sikap ilmiah. Sikap ini kemudian akan melahirkan keterampilan dalam melakoni proses ilmiah.

Hal ini akan terlihat dari cara kita mengobservasi hingga mengajukan pertanyaan, mengindentifikasi hingga mendefinisikan sesuatu, merumuskan masalah, menyusun kerangka berpikir, menganalisis data, hingga menarik sebuah kesimpulan.

Makanya, seseorang bisa disebut literated ketika ia memiliki sikap dan keterampilan tersebut dalam setiap bidang yang ditekuni.

Di situlah Indonesia tertinggal. Tanpa membangun sikap dan keterampilan di atas, dengan derasnya informasi yang ada, kita terseret bahkan tenggelam dalam arus informasi tanpa mampu memilih dan memilah mana yang benar dan salah. Makanya, HOAX mampu merajalela.

Groovy Peduli Literasi

Groovy memandang internet bukan hanya sebagai media. Internet sendiri adalah bagian dari literasi. Banyak orang belum mengetahui tentang internet itu sendiri. Ya, mereka hanya menjadi pengguna, dan bahkan penggunaan itu pun hanya terbatas pada media sosial.

Pada bulan Maret lalu, Groovy pun mengadakan Groovy Article Writing Competition atau Kompetisi Menulis Artikel sebagai bagian dari kepedulian Groovy terhadap literasi. Hal ini menarik karena pertama, temanya adalah TV Kabel dan Layanan Internet. Selain sebagai ajakan agar masyarakat ikut serta menulis untuk lomba, Groovy punya harapan bahwa dari setiap blog yang ikut serta akan dapat banyak menyentuh pembaca yang masih awam tentang tema tersebut. Dengan begitu, informasi mengenai pengalaman peserta lomba dalam TV kabel dan layanan internet bisa menjadi pengetahuan bagi pembacanya.

Ada semacam rasa tanggung jawab kepada konsumen, ketika mereka hendak memilih provider layanan TV kabel dan internet, mereka memilih dengan kesadaran yang berakar dari pengetahuan mereka. Mereka tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Misalnya, ketika hendak memilih Groovy, mereka jadi tahu kenapa sih Groovy punya paket Unlimited Speed, dan kenapa juga sih Groovy menyatakan benar-benar pakai kabel fiber optik. Memangnya penyedia lain ada yang tidak pakai fiber optik? Kenapa pula Static IP Address? Apa gunanya buat konsumen?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah bagian dari sikap ilmiah sebelum membuat kesimpulan, ah, kalau begitu saya harus berlangganan Groovy.

Write A Comment